UIN Jusila Mantapkan Tradisi Akademik lewat Seminar Progres Penelitian Litapdimas 2025
UIN Jusila kembali menunjukkan kiprahnya sebagai kampus yang dinamis dan berpikiran maju. Dalam atmosfer akademik yang penuh semangat, universitas ini menggelar Seminar Progres Penelitian Litapdimas 2025—forum ilmiah yang tak hanya menjadi ajang evaluasi hasil penelitian, tetapi juga wujud dedikasi, refleksi intelektual, dan idealisme akademik dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Prof. Dedi Irwansyah, M.Hum., Ketua LPPM Dr. Nurkholis, M.Pd., para reviewer nasional maupun internasional, serta puluhan peneliti yang antusias memaparkan perkembangan riset mereka. Sejak awal, suasana kolaboratif terasa kuat—para peserta hadir bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, melainkan sebagai bagian dari gerakan keilmuan yang meneguhkan budaya riset di lingkungan akademik.
Dalam sambutannya, Kepala Pusat Penelitian menegaskan bahwa suatu kampus akan dikenang bukan karena megahnya bangunan, melainkan karena besarnya gagasan dan kontribusinya bagi ilmu pengetahuan. Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan hangat, menandai kuatnya komitmen UIN Jusila dalam menumbuhkan kultur riset yang berkelanjutan.
Tahun 2025 menjadi momentum penting. Di tengah kebijakan efisiensi nasional, UIN Jusila tetap dipercaya melanjutkan Program Litapdimas dengan skema Standar Biaya Keluaran (SBK). Sebanyak 38 tim peneliti berhasil lolos seleksi dengan total dana dukungan mencapai Rp450 juta. Penelitian-penelitian tersebut mencakup empat klaster strategis—pembinaan, program studi, interdisipliner, dan pengembangan pendidikan tinggi—yang mencerminkan karakter riset adaptif dan relevan dengan tantangan zaman.
Apresiasi tinggi diberikan kepada para reviewer yang menunjukkan dedikasi luar biasa. Di antaranya Prof. Mufliha yang turut berpartisipasi secara daring dari Belgia pada pukul tiga pagi waktu setempat, serta Prof. Ilya, anggota dewan editorial jurnal Scopus bidang Religious Studies, bersama akademisi terkemuka lainnya seperti Prof. Sri Harini, Prof. Arif Jamhari, Dr. Aria, dan Dr. Imam Mustofa. Kolaborasi lintas negara ini memperkaya perspektif akademik dan membuka peluang jejaring riset global bagi sivitas UIN Jusila.
Dalam paparannya, Prof. Dedi Irwansyah menegaskan bahwa UIN Jusila berkomitmen menuju world class university dengan memperkuat ekosistem riset internasional, mendorong kerja sama lintas negara, serta meningkatkan produktivitas publikasi di jurnal bereputasi dunia.
“UIN Jusila harus dikenal bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga dalam percakapan akademik global. Dari kampus ini, kita ingin lahir gagasan besar yang memberi warna bagi peradaban dunia,” tegasnya.
Para peneliti akan diberi waktu dua hingga tiga minggu untuk menyempurnakan riset berdasarkan masukan dari reviewer, sebelum memasuki Seminar Hasil pada akhir bulan. Proses ini bukan sekadar formalitas akademik, melainkan bagian dari perjalanan intelektual—wujud pengabdian ilmiah yang bermakna dan penuh tanggung jawab.
Dengan semangat dan konsistensi yang terus menyala, UIN Jusila menegaskan diri sebagai kampus yang tumbuh dari nalar, berkembang melalui riset, dan berkontribusi lewat karya ilmiah. Di sinilah peradaban baru sedang dirajut—berbasis ilmu, diperkuat kolaborasi, demi kemaslahatan umat manusia.


